Tuesday, June 14, 2011

PERAN GURU DALAM PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN DI ERA TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Peran guru dalam mengembangkan media itu sangat perlu dalam mempengaruhi proses belajar. Karena pada dasarnya kepribadian guru memiliki hubungan dengan murid. Kemampuan dalam mengajar dan perhatian terhadap kemampuan para peserta didik turut mempengaruhi proses belajar. Seorang guru yang kurang mampu menjelaskan dengan baik dan kurang menguasai bahan yang diajarkan dapat menimbulkan kurangnya dorongan untuk menguasai materi. (Juhri, 2009).

Maka dari itu dalam era perkembangan Iptek yang begitu pesat dewasa ini, guru tidak cukup hanya dengan kemampuan membelajarkan siswa, tetapi juga harus mampu mengelola informasi dan lingkungan untuk memfasilitasi kegiatan belajar siswa (Ibrahim, et.al., 2001). Dalam Kegiatan Belajar mengajar di dalam kelas, setiap siswa tentu memiliki intelegensi yang berbeda – beda baik laki – laki maupun perempuan, itulah sebabnya mengapa media pembelajaran sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Dampak perkembangan Iptek terhadap proses pembelajaran adalah diperkayanya sumber dan media pembelajaran, seperti buku teks, modul, overhead transparansi, film, video, televisi, slide, hypertext, web, dan sebagainya. Oleh sebab itu guru dituntut mampu memilih dan menggunakan berbagai jenis media pembelajaran yang ada di sekitarnya.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apakah guru sudah mampu dalam menggunakan media pembelajaran?

2. Bagaimana peran guru dalam mengembangkan media pembelajaran diera teknologi dan informasi?

3. Apa saja keuntungan yang diperoleh dalam menggunakan media pembelajaran ?

1.3 TUJUAN PEMBUATAN

Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Profesi Kependidikan dan menambah pengetahuan bagi pembaca dan penulis, serta untuk calon guru dalam mengembangkan media pembelajaran. Pada makalah ini terdapat hal-hal yang dapat membantu agar seorang pengajar /guru mampu memberi peran dengan maksimal dalam mengembangkan media pembelajaran di era teknologi dan informasi agar tujuan pembelajaran tersebut dapat tercapai.

1.4 SISTEMATIKA PEMBUATAN

Makalah ini di buat dengan sistematika:

1. Pada pendahuluan di tulis sistematika sebagai berikut:

1) Latar belakang

2) Rumusan Masalah

3) Tujuan pembuatan

4) Systemmetika pembuatan

2. Pembahasan yang di kaji dalam makalah ini adalah peran guru dalam pembelajaran, sebagai berikut:

a) Teori yang berkaitan dengan sumber belajar

b) Pengertian media

c) Jenis dan klasifikasi media

d) Peran media

e) Media yang tidak diproyeksikan

f) Media yang diproyeksikan.

BAB III

PEMBAHASAN

PERAN GURU DALAM PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN DI ERA TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI

Media pembelajaran merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan proses pembelajran. Dalam proses belajar mengajar, dua unsur yang amat penting adalah metode mengajar dan media pembelajaran. Media sangat bermanfaat sebagai penyampai informasi yang dapat menunjang proses pengajaran semakin enak dan tidak bosen. Media juga telah dikenal sebagai alat bantu mengajar yang seharusnya dimanfaatkan oleh pengajar, namun kerap kali terabaikan. Tidak dimanfaatkannya media dalam proses pembelajaran, pada umumnya disebabkan oleh berbagai alasan, seperti waktu persiapan mengajar yang terbatas, sulit mencari media yang tepat, biaya yang tersedia, ataupun alas an lain. Hal tersebut sebenarnya tidak perlu muncul apabila pengetahuan akan ragam media, karakteristik, serta kemampuan masing-masing oleh para pengajar. Media sebagai alat mengajar berkembang demikian pesatnya sesuai dengan kemajuan teknologi. Ragam dan jenis media pun cukup banyak sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan kondisi, waktu, keuangan, maupun materi yang akan disampaikan. Setiap jenis media memiliki karakteristik dan kemampuan dalam menayangkan pesan dan informasi (Kemp. 1985). Karakteristik dan kemampuan masing-masing media perlu mendapat perhatiian dari para pengajar sehingga mereka dapat memilih media yang sesuai dengan kondisi yang dihadapi.

2.1 Teori-teori yang Berkaitan dengan Sumber Belajar

Sumber belajar bahwasannya mencakup apa saja yang dapat digunakan untuk membantu tiap orang untuk belajar dan menampilkan kompetensinya. (H. karwono dan H. Mularsih, 2010). Pembelajaran diupayakan mencakup semua variabel pembelajaran yang dirasa turut mempengaruhi belajar. Ada tiga variable yang perlu dipertimbangkan dalam merancang pembelajaran. Ketiga variabel tersebut adalah variabel kondisi, variabel metode, dan variabel hasil pembelajaran. Kondisi pembelajaran adalah mencakup semua variabel yang tidak dapat dimanipulasi oleh perencana pembelajaran, dan harus diterima apa adanya. Yang termasuk dalam variabel ini adalah tujuan pembelajaran, karakteristik bidang studi, dan karakteristik siswa. Variabel metode pembelajaran adalah mencakup semua cara yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam kondisi tertentu. Yang termasuk dalam variabel ini adalah strategi pengorganisasian pembelajaran, strategi penyampaian pembelajaran, dan strategi pengelolaan pembelajaran. Sedangkan variabel hasil pembelajaran mencakup semua akibat yang muncul dari penggunaan metode tertentu pada kondisi tertentu, seperti keefektifan pembelajaran, efisiensi pembelajaran, dan daya tarik pembelajaran.

Inti dari rencana pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Fokus utama dalam perancangan pembelajaran adalah pada pemilihan, penetapan, dan pengembangan variabel metode pembelajaran. Pemilihan metode pembelajaran harus didasarkan pada analisis kondisi dan hasil pembelajaran. Analisis akan menunjukkan bagaimana kondisi pembelajarannya, dan apa hasil pembelajaran yang diharapkan. Setelah itu, barulah menetapkan dan mengembangkan metode pembelajaran yang diambil dari perancang pembelajaran setelah mempunyai informasi yang lengkap mengenai kondisi nyata yang ada dan hasil pembelajaran yang diharapkan.

Ada tiga prinsip yang perlu dipertimbangkan dalam upaya menetapkan metode pembelajaran, yaitu :

1. Tidak ada satu metode pembelajaran yang unggul untuk semua tujuan dalam semua kondisi ;

2. Metode (strategi) pembelajaran yang berbeda memiliki pengaruh yang berbeda dan konsisten pada hasil pembelajaran.

3. Kondisi pembelajaran yang berbeda bisa memiliki pengaruh yang konsisten pada hasil pembelajaran.

Berkenaan dengan menyusun rencana pembelajaran, Reigeluth dan Merril dalam Reigulth53 telah mengembangkan model pembelajaran secara komperhensif yang terdiri dari tiga variabel utama, yaitu : (1) kondisi pembelajaran (instructional conditions), (2) metode pembelajaran (instructional methods), dan (3) hhasil pembelajaran (instructional outcomes). Interaksi antara ketiga variabel tersebut dihasilkan dua teori pembelajaran, yaitu teori pembelajaran diskriptif, dan teori pembelajaran preskriptif, yaitu secara diagram dapat digambarkan sebagai berikut.




Gambar : interrelasi variabel kondisi pembelajaran, metode pembelajaran, dan hasil pembelajaran.

Pada teori pembelajaran diskriptif, variabel kondisi pembelajaran dan metode pembelajaran merupakan variabel bebas, dn hasil pembelajaran sebagai variabel terikat. Kedua variabel bebas berinteraksi untuk menghasilkan efek hasil pembelajaran. Sedangkan pada teori pembelajaran preskriptif, variabel kondisi pembelajaran dan hasil pembelajaran merupakan variabel bebas, dan metode pembelajaran sebagai variabel terikat.

Kedua variabel bebas tersebut berinteraksi untuk menetapkan metode pembelajaran yang optimal. Dengan bahasa yang lebih mudah dapat dikatakan bahwa teori pembelajaran yang yang bersifat preskriptif membahas bagaimana mengelola faktor-faktor eksternal agar orang yang belajar dapat belajar dengan sebaik-baiknya. Sedangkan teori belajar dekriptif membahas bagaimana proses belajar terjadi pada diri orang yang belajar.

Degeng memberikan contoh kedua teori pembelajaran tersebut. Pada teori pembelajaran deskriptif, apabila isi bidang studi (kondisi) diorganisasikan dengan menggunakan model elaborasi (metode), akan diperoleh hasil belajar yang meningkat. Sedangkan pada teori pembelajaran preskriptif, agar diperoleh hasil belajar yang meningkat, maka isi bidang studi (kondisi) perlu diorganisasikan dengan menggunakan model elaborasi. Selanjutnya, Degeng mengungkapkan bahwa kondisi pembelajaran merupakan faktor yang mempengaruhi efek metode dalam meningkatkan hasil belajar. Metode pembelajaran merupakan cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda pula. Hasil pembelajaranmerupakan semua efek yang dapat digunakan sebagai indikator tentang nilai dari penggunaan metode pembelajaran pada kondisi yang berbeda. Selanjutnya, permasalahan yang berkaitan dengan masing-masing variabel pembelajaran dapat dijelaskan melalui diagaram taksonomi variabel pembelajaran Reigeluth dan Merril, seperti berikut.







Berdasarkan diagram tersebut, tampak bahwa pembelajaran memiliki variabel yang saling berhubungan. Variabel kondisi berhubungan dengan variabel strategi dan variabel hasil, demikian pula hubungan variabel lainnya yang dapat dibolak-balik. Hal ini memberikan gambaran bahwa pembelajaran merupakan suatu sistem yang saling berkaitan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Atau dengan kata lain, dalam merancang rencana pembelajaran perlu diperhitungkansistem yang saling berpengaruh.

Gagne dalam Suparman mengatakan bahwa sistem pembelajaran adalah suatu set peristiwa yang mempengaruhi anak didik sehingga terjadi proses belajar. Kegiatan pembelajaran ini harus terencana secara sistematis untuk dapat disebut sebagai kegiatan pembelajaran. Selain ituu, dipaparkan juga mengenai kegiatan yang dilakukan anak didik tanpa perencanaan sebelumnya yang disebut dengan pengalaman, bukan disebut sebagai pembelajaran. Sekalipun kegiatan-kegiatan itu menyebabkan terjadinya perubahan perilaku anak didik, tetapi tanpa rencana yang bertujuan.

Pengembangan pembelajaran sebagai suatu proses yang sistematis untuk menghasilkan suatu sistem pembelajaran melalui tahapan berikut.

  1. Perumusan tujuan instruksional umum.
  2. Analisis tujuan instruksional umum.
  3. Analisis kemampuan awal siswa.
  4. Menuliskan tujuan instruksional khusus.
  5. mengembangkan tes acuan patokan.
  6. mengembangkan strategi pembelajaran.
  7. mengembangkan bahan pembelajaran.
  8. Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif.
  9. Merevisi pembelajaran.
  10. Melaksanakan evaluasi formatif.

Visualisasi tahapan, dapat digambarkan sebagai berikut.

2.2 Pengertian Media

Definisi media pembelajaran. Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium. Medium dapat didefinisikan sebagai perantara atau pengantar terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima (Heinich et.al., 2002; Ibrahim, 1997; Ibrahim et.al., 2001). Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan (Criticos, 1996). Berdasarkan definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran merupakan proses komunikasi. Proses pembelajaran mengandung lima komponen komunikasi, guru (komunikator), bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan tujuan pembelajaran.

Media juga berasal dari bahasa Latin yang mempunyai arti antara. Makna tersebut dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk membawa suatu informasi dari suatu sumber kepada penerima. Sejumlah pakar membuat batasan tentang media, diantaranya yang dikemukakan oleh Association of Education and Communication Technology (AECT) Amerika. Menurut AECT, media adalah bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyalurkan pesan atau informasi. Apabila dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran maka media dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk membawa informasi dari pengajar ke peserta didik. Hal yang sama dikemukakan sebelumnya oleh Briggs (1970) yang menyatakan bahwa media adalah segala bentuk fisik yang dapat menyampaikan pesan serta merangsang peserta didik untuk belajar.

Dari batasan yang telah disampaikan oleh para ahli mengenai media, dapat disimpulkan bahwa pengertian media dalam pembelajaran adalah segala bentuk alat komunikasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan unformasi dari sumber ke peserta didik yang bertujuan merangsang mereka untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Media, selain digunakan untuk menyampaikan pembelajaran secara utuh, dapat juga dimanfaatkan untuk menyampaikan bagian tertentu dari kegiatan pembelajaran, memberikan penguatan maupun motivasi, sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar.

2.3 Jenis dan Klasifikasi Media

Jenis media yang dimanfaatkan dalam proses pembelajaran cukup beragam, mulai dari media yang sederhana sampai pada media yang cukup rumit dan canggih. Untuk mempermudah mempelajari jenis-jenis media, karakter, dan kemampuannya, dilakukan pengklasifikasian atau penggolongan.

Salah satu klasifikasi yang dapat menjadi acuan dalam pemanfaatan media adalah klasifikasi yang dikemukakan oleh Edgar Dale yang dikenal dengan kerucut pengalaman (Cone Experience). Kerucut pengalaman Dale mengklasifikasikan media berdasarkan pengalaman belajar yang diperoleh oleh peserta didik, mulai dari pengalaman belajar langsung, pengalaman belajar yang dapt dicapai melalui gambar, dan pengalaman belajar yang bersifat abstrak. Untuk dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kerucut pengalaman, perhatikan gambar berikut.


Gambar. Kerucut pengalaman Dale

Kerucut pengalaman Dale, menunjukkan bahwa informasi yang diperoleh melalui pengalaman langsung yang berada pada dasar kerucut mampu menyajikan pengalaman belajar secara lebih konkret. Semakin menuju ke puncak, penggunaan media semakin memberikan pengalaman belajar yang bersifat abstrak.

Penggolongan lain yang dapat dijadikan acuan dalam pemanfaatan media adalah berdasarkan pada teknologi yang digunakan, mulai media yang teknologinya rendah (low technology) sampai pada media yang menggunakan media yang menggunakan teknologi tinggi (high technology). Apabila penggolongan media ditinjau dari teknologi yang digunakan, maka penggolongannya sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Dengan demikian, penggolongan media dapat berubah dari waktu kewaktu. Misalnya, dalam era tahun 1950 media televise dikategorikan sebagai media berteknologi tinggi, tetapi kemudian pada era tahun 1970/1980 media tersebut bergeser dengan kehadiran media komputer. Pada masa tesebut, computer digolongkan sebagai media dengan teknologi yang paling tinggi, tetapi kemudian dapa tahun 1990 tergeser kedudukannya dengan kehadiran media komputer conferencing melalui internet. Kondisi seperti ini akan berlangsung selama ilmu dan teknologi terus berkembang.

Salah satu bentuk klasifikasi yang mudah dipelajari adalah klasifikasi yang disusun oleh Heinich, sebagai berikut.

KLASIFIKASI

JENIS MEDIA

Media yang tidak dapat diproyeksikan (non projected media)

Realita, model, bahan grafis (graphical material), display

Media yang diproyeksikan (projected media)

OHT, Slide, Opaque

Media Audio (Audio)

Audio kaset, audio vision, active audio vissioon

Media Video (Video)

Video

Media berbasis komputer (computer based media)

Computer Assisted Instruction (CAI)

Computer Managed Instruction (CMI)

Multimedia kit

Perangkat Praktikum

Pengklasifikasian yang dilakukan oleh Heinich ini pada dasarnya adalah penggolongan media berdasarkan bentuk fisiknya, yaitu apakah media tersebut masuk dalam golongan media yang tidak diproyeksikan atau yang diproyeksikan, atau apakah media tertentu masuk dalam golongan media yang dapat didengar lewat audio atau dapat dilihat secara visual, dan seterusnya.

2.4 Peran Media

Dalam proses pembelajaran media memiliki kontribusi dalam meningkatkan mutu dan kualitas pengajaran. Kehadiran media tidak saja membantu pengajar dalam menyampaikan materi ajarnya, tetapi memberikan nilai tambah pada kegiatan pembelajaran. Hal ini berlaku bagi segala jenis media, baik yyang canggih dan mahal ataupun media yang sederhana dan murah. Kemp, dkk. (1985) menjabarkan sejumlah kontribusi media dalam kegiatan pembelajaran antara lain :

1. penyajian materi ajar menjadi lebih standar;

2. kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik;

3. kegiatan belajar dapat menjadi lebih interaktif;

4. waktu yang dibutuhkan untuk pembelajaran dapat dikurangi;

5. kualitas belajar yang dapat ditingkatkan;

6. pembelajaran dapat disajikan di mana dan kapan saja sesuai dengan yang diinginkan;

7. meningkatkan sifat positif peserta didik dan proses belajar menjadi lebih kuat/baik;

8. memberikan nilai positif bagi pengajar.

Penjabaran tentang peranan media dalam pembelajaran yang dikemukakan oleh Kemp memberikan wawasan yang luas mengenai pemanfaatan media dalam pembelajaran.

1) Media pembelajaran juga sebagai salah satu sumber belajar, secara umum media pembelajaran dapat digunakan untuk:

2) Merekam dan menyimpan data/informasi, misalnya bunyi suara berbagai burung dapat direkam pada casette recorder.

3) Memanipulir objek-objek, misalnya proses pembagian sel pada tumbuh-tumbuhan dapat diperlihatkan pada film dengan mempercepatnya atau memperlambatnya.

4) Menyebarluaskan data/informasi, misalnya melalui siaran televisi yang disalurkan lewat satelit komunikasi, sehingga dapat dengan cepat apa yang terjadi pada negara lain.

Selain itu, Heinich melihat kontribusi media dalam proses pembelajaran secara lebih global ditinjau dari kondisi berlangsungnya proses pembelajaran, seperti berikut :

  1. Proses pembelajaran yang bergantung pada kehadiran pengajar,

Pada kondisi ini, penggunaan media dalam proses pembelajaran umumnya besifat sebagai pendukung bagi pengajar. Perancangan media yang tepat akan sangat membantu menguatkan materi pembelajaran yang disampaikan oleh pengajar secara langsung.

  1. Proses pembelajaran tanpa kehadiran pengajar

Ketidakhadiran pengajar dalam proses pembelaran dapat disebabkan oleh tidak tersedianya pengajar atau pengajar sedang bekerja dengan peserta didik lain.

Media dapat digunakan secara efektif pada pendidikan formal dimana pengajar yang karena suatu hal tidak dapat hadir di kelas atau sedang bekerja dengan peserta didik lain.

  1. Pendidikan jarak jaauh

Pendidikan jarak jauh telah berkembang dengan cepat di seluruh dunia. Hal utama yang membedakan antara pendidikan jarak jauh dengan pendidikan tatap muka adalah adanya keterpisahan antara pengajar dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Adanya keterpisahan ini membutuhkan suatu media yang berperan sebagai jembatan antar pengajar dengan peserta didik. Peranan media dalam pendidikan jarak jauh mampu mengatasi masalah jarak, ruang, dan waktu. Media yang paling umum digunakan dalam pendidikan jarak jauh adalah media cetak dengan menggunakan sistem korespondensi.

  1. Pendidikan khusus

Media memiliki peran yang penting dalam pendidikan bagi peserta didik yang memiliki keterbatasan kemampuan, misalnya yang memiliki keterbelakangan mental, tuna netra, atau tuna rungu. Penggunaan media tertentu akan sangat membantu proses pembelajaran bagi mereka. Media yang digunakan adalah jenis-jenis media yang sesuai dan tepat bagi masing-masing keterbatasan.

Menurut Wina (2008) mdia pembelajaran juga memiliki fungsi dan berperan sebagai berikut :

  1. Menangkap suatu obyek atau peristiwa-peristiwa tersebut.

Peristiwa penting atau obyek langka dapat diabadikan dengan foto, film, atau direkam melalui video atau audio.sehingga guru dapat menjelaskan proses yang telah diambil dengan media tersebut.

  1. Memanipulasi keadaan, peristiwa, atau obyek tertentu.

Melalui media pembelajaran, guru dapat menyajikan bahan pelajaran yang bersifat abstrak menjadi konkrit, sehingga mudah dipahami dan dapat menghilangkan verbalisme.

  1. Menambah gairah dan motivasi belajar siswa.

Penggunaan media dapat menambah motivasi belajar siswa, sehingga perhatian siswa terhadap materi pembelajaran dapat lebih meningkat.

  1. Media pembelajaran memiliki nilai praktis, sebagai berikut:

1) Dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimili siswa.

2) Dapat mengatasi batas ruang kelas.

3) Dapat memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara siswa dengan lingkungan.

4) Dapat menghasilkan keragaman pengamatan.

5) Dapat menanamkan konsep dasar yang benar, nyata, dan tepat.

6) Dapat membangkitkan motivai dan merangsang peserta untuk belajar dengan baik.

7) Dapat membangkitkan keinginan danminat baru.

8) Media dapat mengontrol kecepatan beljar siswa.

9) Dapat memberikan pengalaman yang menyeluruh dari hal-hal yang konkrit sampai yang abstrak.

2.5 Media yang Tidak Diproyeksikan

Media ini sering disebut sebagai pameran atau displayed media. Jenis media yang tergolong media yang tidak diproyeksikan, yaitu :

  1. Realia

Realia adalah benda nyata yang digunakan sebagai bahan ajar. Pemanfaatan media realia tidak harus selalu dihadirkan dalam ruang kelas, tetapi dapat digunakan sebagai suatu kegiatan observasi pada lingkungannya. Realia dapat digunakan dalam kegiatan belajar dalam bentuk sebagaiman adanya, tidak perlu dimodofikasi, tidak ada pengubahan, kecuali dipindahkan dari kondisi lingkungan hidup aslinya. Cirri media realia adalah benda asli yang masih berada dalam keadaan utuh, dapat dioperasikan, hidup, dalam ukuran yyang sebenarnya, dan dapat dikenali sebagaimana wujud aslinya. Selain dalam bentuk aslinya, penggunaan realia dapat dimodifikasi. Menurut Heinich, modiifikasi penggunaan realia dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan tiga cara, sebagai berikut.

  1. Cutaways/potongan

Cutaways adalah belahan atau potongan benda sebenarnya yang digunakan untuk dapat melihat bagian dalam dari benda tersebut. Misalnya realia sebuah mesin, dengan cara membelah mesin tersebut, peserta didik akan dapat melihat bagaimana cara kerja mesin tersebut.

b. Specimen/contoh

Specimen adalah bentuk media realia yang digunakan dalam bentuk asli dari sebuah benda dalam jenis atau kelompoknya, misalnya kupu-kupu dalam berbagai jenis. Untuk mempermudah pengamatan, pada umumnya specimen tersebut dikemas atau disimpan dalam botol, kotak, atau tempat lain yang dapat di observasi.

c. Exhibit/pameran

realita dapat ditampilkan dalam bentuk pameran yang dirancang seolah berada dalam lingkungan atau situasi yang asli. Misalnya benda sejarah, benda-benda tersebut dipamerkan dalam warna atau kondisi asli atau situasi bagaimana pemanfaatan benda tersebut pada kuun masa tertentu, media realia dapat diadakan atau dapat dimanfaatkan. Dengan demikian, media realia ini memberikan suatu konstribusi yang sangat beasr dalam proses belajar mengajar.

  1. Model

Pemanfaatan media realia dalam proses pembelajaran merupakan cara yang cukup efektif, karena dapat memberikan informasi yang lebih akurat. Walaupun tidak semua benda nyata dapat digunakan sebagai media realia karena keterbatasan penyediaanya, misalnya kerena ukuran ataupun biayanya. Alternative pemanfaatan media yang menyerupai realia adalah model. Menurut brown (1985), model didefinisikan sebagai benda nyata yang dimodifikasikan ; heinich et al., (1996) menyebutkan hal yang senada, yaitu gambaran yang berbentuk tiga dimensi dari sebuah benda nyata. Penggunaan model didefinisikan sebagai media dalam pembelajaran dimaksudkan untuk mengatasi kendala pengadaan relia, seperti harga yang tinggi atau benda yang sulit digunakan sebagai realia. Model dapat berukuran lebih besar, lebih kecil, atau berukuran saa persis dengan benda aslinya, serta dapat menampilkan wujud yang lengkap dan rinci dari benda aslinya, atau dapat ditampilkan dalam wujud yang sederhana untuk mempermudah proses kegiatan pembelajaran. Sebagai salah satu media yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar, model memiliki keunggulan yang tentunya sangat membantu proses tersebut, walaupun terdapat pula keterbatasan tertentu.

  1. Bahan Grafis

Media grafis yang juga dapat digolongkan sebagai media visual nonproyeksi, mudah digunakan karena tidak membutuhkan peralatan serta relative murah. Umumnya media yang termasuk dalam golongan ini hanya membutuhkan biaya yang relative rendah atau bahkan tidak memerlukan biaya sama sekali. Brown et al.,(1985) melihat setidaknya ada lima jenis media grafis yang memiliki keunggualan yang cukup tinggi dalam kegiatan pembelajaran, yaitu graft, char, diagram, kartu, poster, peta dan globe. Sementara heinich, et al., (1996) menyebutkan beberapa jenis media grafis antara lain : gambar diam, sketsa, diagram, charts, graft, poster, dan kartun. Sebagian dari media grafis ini memerlukan kecermatan dan perhatian khusus, karena visualisasi dari sebagian media grafis bersifat simbolis, tidak menampilkan gambaran yang utuh, hal ini kadangkala menimbulkan kesalahan dalam menginterprestasikan atau mengartikan bentuk visualisasinya.

Masing-masing jenis media grafis memiliki keunikan, keunggulan, dan keterbatasan tersendiri yang tentunya menarik untuk dibahas satu persatu, mulai dari gambar diam, sketsa, diagram, grafik, charts, dan poster.

Gambar diam

Dari semua media grafis, gambar diam merupakan jenis yang paling banyak digunakan, mudah dikenali, dan mudah dimengerti secara langsung tanpa memerlukan interprestasi.

Gambar didefinisikan representasi visual dari orang, tempat ataupu benda yang diwujudkan di atas kanvas, kertas, atau bahan lain, baik dengan cara lukisan , gambar, atau foto. Ukuran foto atau gambar dapat diperbesar atau diperkecil agar dapat digunakan untuk keperluan proses pembelajaran tertentu. Pemanfaatan gambar dalam proses pembelajaran sangat membantu mengajar dalam beberapa hal seperti yang dikemukakan oleh hackbarth (1996) sebagai berikut.

a. Menarik perhatian , pada umumnya semua orang senang melihat foto/ gambar.

b. Menyediakan gambar nyata suatu objek yang karena suatu hal tidak mudah untuk diamati.

c. Unik.

d. Memperjelas hal-hal yang bersifat sbstrak.

e. Mampu mengilustrasikan suatu proses.

Sketsa

Merupakan gambar yang tiodak lengkap dan sederhana, atau dapat dikatakan sebagai gambar kasar yang hanya menampilkan bagian-bagian pokok/utama dan mengabaikan bagian-bagian yang bersifat detail sketsa ini biasanya digunakan apabila gambar yang lengkap dari objek yang ditampilkan tidak tersedia, atau memang bertuhuan hanya ingin menampilkan bagian-bagian pokok dari suatu objek.

Diagram

Visualisasi dalam bentk grafis yang masih tergolong dalam gambar yang sedehana dalam diagram. Penggunaan diagram pada umumnya ditunjukkna untuk menggambarkan suatu hubungan atau menjelaskan suatu proses (Heinich et al., 1996). Diagram dapat memberikan gambaran mengenai cara kerja suatu benda atau bagaimana membuat, menyusun, atau membangun suatu benda.

Grafik

Grafis didefinisikan sebagai bahan-bahan nonfotografis dengan format dua dimensi yang didesain khusus untuk mengomunikasikan pesan dan informasi tertentu. Umumnya data yang berbentuk data biasa ataupun table dapat disusun kedalam bentuk grafik. Penampilan data dalam bentuk grafik umumnya akan menjadi lebih mudah dipahami dan lebih menarik. Penggunaan grafik dalam kegiatan pembelajaran memiliki berbagai pilihan dan variasi. Setidaknya grafik dapat ditampilkan dalam empat jenis, yaitu batang, gambar lingkaran, dan garis. Keempat jenis grafik ini memiliki penampilan serta tingkat keterbacaan yang berbeda. Grafik biasanya dilengkapi dengan tuliskan yang menjelaskan symbol-simbol yang terdapat didalamnya. Pemilihan jenis grafik yang akan digunakan biasanya tergantung pada kompleksitas dari informasi atau data yang ingin disampaikan, selain itu juga tergantung pada kemampuan atau keterampilan peserta didik dalam menginterprestasikan grafik (Heinich et al., 1996).

Grafik batang umumnya digunakan untuk membandingkan objek yang sejenis yang diukur dalam waktu yang berbeda atau membandingkan objek yang berbeda dalam waktu sama.

Grafik gambar merupakan jenis grafik yang paling sederhana dan merupakan jenis grafik yang paling sederhana dan merupakan bentuk alternative dari grafik batang, dimana jumlah atau angka-angka yang igin yang ingin disampaikan ditampilkan dalam bentuk gambar. Grafik gambar ini biasanya menarik bagi semua tingkatan usia. Untuk dapat menggunakan grafik gambar sebagai media dalam proses pembelajaran, perlu diperhatikan symbol gambar yang sederhana serta mudah dipahami. Misalnya, gambar orang dapat digunakan sebagai symbol untuk menjelaskan jumlah penduduk, atau gambar toga digunakan untuk menyimbolkan jumlah peserta didik yang lulus.

Grafik lingkaran juga dikenal dengan sebutan grafik pie merupakan grafik yang sangat mudah untuk dibaca dan diinterprestasikan. Lingkaran yang digunakan untuk menggambarkan grafik ini bagi dalam beberapa porsi atau segmen. Tiap segmen menggambarkan bagian atau persentase dari keseluruhan. Gabungan dari segmen-segmen dalam lingkaran tersebut bernialai 100%. Pemberian warna dapat digunakan untuk menonjolkan dan membedakan segmen satu dengfan segmen lain.

Jika dibandingka dengan ketiga jenis grafik lain, grafik garis merupakan grafik yang paling akurat dan paling kompleks. Grafik ini adalah grafik yang termasuk dalam jenis grafik dua skala yang menggunakan absis vertical dan horizontal. Poin-poin yang tergambar dihubungkan satu dengan dengan yang lain sehingga terlihat sebagai sebuah garis. Garis tersebut dapat terlihat lurus atau turun naik, hal ini ditentukan oleh nilaio yang terdapat pada skala vertical dan skala horizontal.

Chart/Bagan

Chart atau bagan adalah salah satu jenis dari media grafis yang digunakan untuk menyampaikan informasi atau materi yang cukup sulit jika disampaikan secara lisan ataupun tulisan. Chart atau bagan mampu memvisualisasikan sebuah hubungan yang bersifat abstrak, seperti kronologis suatu kejadian atau struktur organisasi. Dengan kemampuan tersebut, chart merupakan cara yang sederhana dan singkat. Untuk merancang sebuah chart yang efektif dapat dimanfaatkan berbagai macam jenis grafis, seperti gambar, sketsa, grafik, diagram, atau bahkan bentuk verbal.

Pemanfaatan Bahan Grafis :

1. Seleksi gambar atau visual lain berdasarkan tuhuan instruksional untuk mempengaruhi emosi atau sikap penggunaan foto akan dapat membantu.

2. Untuk tujuan instruksional yang bersifat pendefinisian suatu konsep, penggunaan ilustrasi kurang tepat.

3. Seleksi gambar atau visual lain juga harus berdasarkan penggunaan gambar tersebut. Jika waktu yang digunakan untuk menginterprestasikan sesuatu yang lebih rinci. Namun apabila waktunya terbatas maka sebaiknya memilih gambar atau visual yang sederhana dan mudah dimengerti, seperti diagram sederhana, chart, atau gambar tangan biasa.

4. Criteria lain yang perlu diperhatikan adalah estetika penampilan dan kualitas produksi. Misalnya untuk memilihg foto, perlu diperhatikan prospektifnya, pencahayaan, focus, exposure, dan komposisi.

5. Untuk pembuatan segala jenis media grafis, disajikan satu ide/pokok pikiran dalajm satu gambar, usahakan sederhana dengan penggunaan kata-kata minimal.

4. Papan Display

Berbagai media yang tidak diproyeksikan, seperti gambar, poster, chart, realia, atau lainya yang akan digunakan dalam proses pembelajaran kadangkala membutuhkan tempat untuk men-display atau memanjang. Banyak pilihan yang dapat digunakan untuk men-display atau memanjang media yang tidak diproyeksikan, yaitu papan tulis (blackbroads), whitebroads, copybroads, dan bulletin broads. Keempat jenis media display ini dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan.

2.6 Media yang Diproyeksikan (Projected Media)

Media yang tergolong sebagai media yang diproyeksikan antara lain overhead transparency (OHT), slide, filmstrips, dan opaque. Media tersebut diproyeksikan ke layer dengan menggunakan alat khusus yang dinamakan proyektor (overhead projector, slide projector, dan opaque projector). Namun, dengan perkembangan teknologi telah memungkinkan computer dan video dapat diproyeksikan dengan menggunakan peralatan khusus, yaitu LCD.

1. OHT

OHT merupakan media yang paling sering digunakan. Tidak hanya karena popular, tetapi juga relative lebih mudah mempersiapkan materi ataupun pengoperasianya. Selain dibutuhkan bahan transparansi, dibutuhkan juga alat tulis khusus/pena.

Untuk mendapatkan hasil yang baik, alat tulis yang digunakan sebaiknya khusus untuk overhead transparency. Alat tulis yang di khususkan untuk transparansi pun dibedakan dalam dua jenis, yaitu yang bersfat permanent dan yang dapat dihapus. Pena khusus transparansi yang dapat dihapus biasanya digunakan untuk pemberian tanda-tanda tertentu untuk stressing pada transparansi yang telah ditulis secara permanent. Selain itu, pena tranparan yang tidak permanent juga digunakan untuk menulis materi presentasi pada saat proses pembelajaran berlangsung.

Pemanfaatan OHT dalam pembelajaran

Untuk dapat memanfaatkan media OHT dalam proses pembelajaran dengan hasil optimal, perlu diperhatikan bebepara hal (Teague, dkk., 1994).

a. Mengajar sebaiknya mematikan overhead projector apabila tidak sedang digunakan untuk presentasi. Dalam penggunaan OHT kerap kali seorang pengajar mengabaikan keberadaan tombol power untuk menghidupkan dan mematikan overhead projector. Seorang pengajar kerap kali membiarkan overhead tetap menyala sepanjang presentasi yang dilakukan, bahkan tanpa bahan yang diproyeksikan. Hal ini selain mengganggu peserta didik dengan cahaya yang menyilaukan, juga mempercepat masa hidup (life time) dari lampu proyektor.

b. Pada saat penggantian transparansi yang akan dipresentasikan sebaiknya overhead projector dalam posisi mati (power off). Menyalakan kembali proyektor pada saat transparansi yang akan dipresentasikan siap atas proyektor memberikan semacam kejutan yang akan menarik perhatian dan membuat peserta didik kembali memfokuskan perhatiannya kepada menteri baru yang sedang dipresentasikan.

c. Untuk mendapatkan perhatian yang berkesinambungan dari peserta didik, sebaiknya pengajar menggunakan berbagai jenis penyajian transparansi, seperti transparansi tunggal, overlay, dan mask, disesuaikan dengan materi yang dipresentasikan.

2. Slide

Slide tergolong dalam media visual yang penggunaannya diproyeksikan ke layer. Media slide dapat menampilkan gambar yang sangat realistis. Hal ini disebabkan bahan dasar media slide merupakan film fotografis berbentuk transparan yang sangat tepat untuk digunakan sebagai suplemen belajar pada bidang studi eksakta, seperti jurusan MIPA (biologi, kimia, dan fisika), arsitektur, kedokteran, dan juga pada bidang studi social. Pada bidang studi biologi, slide dipergunakan untuk memperlihatkan berbagai objek yang akan membuat pengajaran lebih menarik dan hidup. Demikian pula pada bidang studi kimia, slide dapat untuk memberikan informasi tentang perubahan warna yang terjadi pada proses persenyawaan, dan topic-topik lain yang memerlukan penjelasan melalui visual. Bidang-bidang ilmu social, seperti antropologi, sejarah, kesenian, serta bidang lain yang memiliki karakteristik materi yang perlu divisualisasikan akan sangat terbantu dengan penggunaan media slide. Keunggulan media slide untuk memproyeksikan gambar yang kecil menjadi ukuran yang lebih besar sangat membantu pemahaman peserta didik tentang detail suatu objek.

Penggunaan slide dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan ataupun tanpa suara. Slide tanpa suara pada umumnya digunakan apabila dambar yang satu dengan gambar yang lain dapat berdiri sendiri, sementara penjelasan langsung diberikan oleh pengajar. Lain hal dengan slide suara, penyajian dilakukan dengan urutan tertentu yang disinkronisasi dengan unsure suara. Walaupun slide suara dapat digunakan untuk proses pembelajaran dalam ruang kelas secara kelompok, namun biasanya slide suara digunakan untuk keperluan pembelajaran secara individual.

3. Media Audio

Media audio merpakan media yang sangat fleksibel, relative murah, praktis dan ringkas, serta mudah dibawa (portable). Media ini dapat digunakan, baik untuk keperluan belajar kelompok (group learning) maupun belajar individual. Dengan karakteristik yang dimilikinya, media audio sangat efektif digunakan dalam beberapa bidang studi, seperti bahasa, drama, dan seni musik. Penggunaan media audio untuk pelajaran bahasa umumnya difokuskan pada dua pokok bahasa utama, yaitu pengucapan (pronounciation) dan structure drill (hackbarth,1996). Untuk mempelajari pronounciation, peserta didik dapat mendengarkan kata atau frase, mengulang pengucapan, dan dapat membandingkan pengucapan yang dilakukan dengan pengucapan yang terdengar melalui kaset. Peserta didik dapat mengulang pengucapannya sehingga sama atau hamper menyamai pengucapan yang terdapat pada rekaman audio. Penggunaan rekaman audio pada bidang studi bahasa untuk keahlian tertentu sangat berguna karena mampu memperlihatkan penggunaan tata bahasa yang agak aneh, karena transisi yang hilang serta kesalahan lain dari segi gramatikal. Untuk kelas seni musik, media audio selain dapat digunakan oleh pengajar dalam ruang kelas, untuk memberikan contoh-contoh yang berkaitan dengan bidang musik, dapat pula digunakan oleh peserta didik untuk merekam hasil karyanya dan mendengarkan kembali penampilanya. Pemanfaatan lain dari media ini adalah pada bidang dtudi tersebut dapat menggunakan media audio untuk memberikan contoh mengenai bagaimana memberikan reportase atau pidato yang baik dan materi-materi lain yang sesuai dan tepat untuk direkam dan dipresentasikan melalui kaset audio.

Menurut Rowntree (1994), format penyajian audio kaset secara garis besar dibedakan dalam tiga bentuk penyajian, yaitu:

· Hanya mendengar;

· Mendengar yang melihat;

· Mendengar, melihat, dan melakukan.

·

Penyajian audio kaset dengan bentuk hanya mendengar biasanya berdiri sendiri. Nemtuk penyajian audio kaset lain yang dapat dikembangkan adalah bentuk penyajian dimana peserta didik tidak hanya mendengar suara, tetapi juga melihat. Oleh Rowntree (1994) bentuk sajian ini dikenal dengan istilah audio-vission. Media audio kaset memang merupakan media yang tidak hanya mendengar, tetapijuga melihat secara bersamaan. Apa yang didengar dan dilihat berkaitan satu dengan yang lain dan saling menguatkan atau lebih dikenal dengan sebutan terintegrasi. Visual atau sesuatu yang dilihat dalam paket ini dapat berbentuk bahan cetakan, misalnya gambar, grafis, peta, foto, chart, diagram, table, dan sebagianya yang tentunya sesuai dan berkaitan dengan apa yang disuarakan. Selain itu, dapat pula berbentuk bahan visual noncetak, seperti slide atau bahkan benda nyata yang perlu mereka pelajari, misalnya potongan batu-batuan, dan sebagainya. Penyajian seperti ini akan sangat membantu karena selain mendapat informasi dari pendengaran, peserta didik dapat pula menggunakan penglihatan mereka yang dapat memperkuat informasi yang mereka dengar. Bentuk pengajian seperti ini tentu memerlukan persiapan dan rancangan yang lebih matang dibandingkan dengan bentuk audio kaset yang hanya didengar.

Bentuk penyajian audio kaset yang mengombinasikan kemampuan mendengar, melihat, dan melakukan sesuatu oleh Rowntree (1994) disebut dengan istilah active audiovision. Bentuk penyajian ini merupakan modifikasi dari audiovision yang menambahkan factor actif dari peserta didik untuk melakukan sesuatu. Media audio kaset sebagai media satu arah yang tidak mempunyai kemampuan interaksi ternyata dapat memberikan proses interaksi walaupun dalam tingkat tertentu melalui penyajian active audivision.

Rekaman audio dapat dilakukan dalam bentuk format audio kaset dan audio compact disk (audio CD). Untuk materi-materi tertentu, rekaman video siap pakai yang dikemas dalam format audio kaset maupun CD dapat ditemuklan dipasaran. Walaupun demikian, jika materi dirasakan kurang tepat maka seseorang pengajar dapat merancang dan membuat program audio sendiri.

4. Media Video

Pemanfaatan media video dalam proses pembelajaran diruang kelas sudah merupakan hal yang biasa. Sebagai media audiovisual dengan memiliki unsure gerakan dan suara, video dapat digunakan sebagai alat Bantu mengajar pada berbagai bidang studi. Kemampuan video untuk memanipulasi waktu dan ruang dapat mengajak peserta didik untuk melanglang buana kemanasaja walaupun dibatasi dengan ruang kelas. Objek-objek yang terlalu kecil, terlalu besar, berbahaya, atau bahkan tidak dapat dikunjungi oleh peserta didik karena lokasinya dibelahan bimi lain, dapat dihadirkan melalui media video.

Pada bidang studi yang banyak mempelajari keterampilan motorik dapaat mengandalkan kemampuan video. Melatih kemampuan kegiatan dengan prosedur tertentu akan membantu dengan pemanfaatan media video. Dengan kemampuan untuk menyajikan gerakan lambat (slow motion), media video membantu pengajar untuk menjelaskan gerakan atau prosedur tertentu dengan lebih rinci. Keterampilan yang dapat dilatih melalui media video tidak hanya berupa keterampilan fisik saja, tetapi juga keterampilan interpersonal, seperti keterampilan dalam psikologi dan hubungan masyarakat. Disamping itu, keterampilan manajerial juga dapat dilatihkan melalui pemanfaatan media video. Pengajar dapat memilih program0program video yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan, kemudian menyaksikan bersama-sama diruang kelas, smembahas serta mendiskusikannya. Selain digunakan untuk melihat program-program yang telah siap pakai, media video juga dapat dimanfaatkan untuk merekam aktivitas peserta didik yang tengah berlatih menguasai keterampilan interpersonal, kemudian hasil rekaman tersebut dibahas dan analisis oleh sesame rekan peserta didik dan pengajar.

Kemampuan video untuk mengabadikan kejadian-kejadian factual dalam bentuk program documenter bermanfaat untuk membantu pengajar dalam mengetengahkan fakta, kemudian membahas fakta tersebut secara lebih jelas dan mendiskusikannya diruang kelas.

Format Video

Dengan kemajuan teknologi yang pesat, format video untuk merekam gambar, gerakan, dan suara tidak hanya dalam bentuk kaset, tetapi juga dalam bentuk lain, seperti laser video disc dan copact disc. Walaupun format kaset memiliki beragam jenis format, pemanfaatan video dalam ruang kelas umumnya digunakan kaset VHS yang memiliki kualitas yang cukup memadai untuk digunakan sebagai alat Bantu pengajaran.

5. Media Berbasis Komputer

Computer dewasa ini tidak lagi merupakan konsumsi mereka yang bergerak dalam bidang bisnis atau dunia kerja, tetapi juga dimanfaatkan secara luas oleh dunia pendidikan. Menurut Hannafin dan Peck (1998), potensi media computer yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas proses pembelajaran antara lain sebagai berikut.

· Memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara peserta didik dan materi pelajaran.

· Proses belajar dapat berlangsung secara individual sesuai dengan kemampuan belajar peserta didik.

· Mampu menampilkan unsure audio visual untuk meningkatkan minat belajar (multimedia).

· Dapat memberikan umpan balik terhadap respons peserta didik dengan segera.

· Mampu menciptakan proses belajar secara kesinambungan.

Heinich, et al., (1996) mengemukakan enam bentuk interaksi yang dapat diaplikasikan dalam merancang sebuah media pembelajaran, berupa:

· Praktik dan latihan (drill and practice),

· Tutorial,

· Permainan (games),

· Simulasi (simulation),

· Penemuan (discovery), dan

· Pemecahan masalah (problem solving).

Program yang berbentuk drill and practice umumnya digunakan apabila peserta didik diasumsikan telah mempelajari konsep, prinsip, dan prosedur sebagai materi pembelajaran. Tujuan dari bentuk program ini adalah melatih kecakapan dan keterampilan, dan biasanya menyajikan sejumlah soal atau kasus yang memerlukan respons peserta didik dengan diserupai umpan balik, program ini umumnya juga menyajikan pengukuhan terhadap jawaban yang tepat.

Bentuk lain dari penyajian program computer adalah program turitorial. Program ini menyajikan informasi dan pengetahuan dalam topic-topik tertentu diikuti dengan latihan pemecahan soal dan kasus. Keunggulan lain dari program turitorial adalah kemampuanya untuk menyajikan informasi dalam bentuk bercabang (branches). Bentuk ini memberikan kebebasan lagi peserta didik untuk mempelajari bahan ajar yang lebih disukai terlebih dahulu.

Permainan (games) selalu menarik untuk diikuti, demikian pula halnya dengan program computer yang mengemas informasi dalam bentuk permainan. Program yang berisi permainan dapat memberi motivasi siswa untuk mempelajari informasi yang ada didalamnya. Hal ini sangat berkaitan erat dengan esensi bentuk permainan yang selalu menampilkan masalah menantang yang perlu dicari solusinya oleh pemakai.

Program simulasi berupaya melibatkan siswa dalam persoalan yang mirip dengan situasi yang sebenarnya, namun tanpa resiko yang nyata. Melalui program simulasi, peserta didik diajak untuk membuat keputusan yang diambil akan memberikan dampak tertentu.

Dalam program bentuk penemuan (discovery), program computer mampu menayangkan masalah yang harus dipecahkan oleh peserta didik dengan cara trial and error. Peserta didik harus terus mencoba sampai berhasil menemukan solusi yang diperlukan untuk memecahkan masalah. Dengan cara ini mereka diharapkan dapat lebih memahami prosedur yang ditempuh untuk memecahkan suatu masalah dan mampu mengingatnya lebih lama.

Bentuk lain dari tayangan computer interaktif adalah problem solving (pemecahan masalah). Program ini dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan cara yang ditempuh siswa dalam memberikan respons. Pada cara yang pertama, siswa merumuskan sendiri solusi masalah yang ditampilkan lewat computer dan memasukkan program ke dalamnya. Sedangkan pada cara yang kedua, computer menyediakan jawaban yang mewakili respons siswa terhadap masalah yang ditayangkan oleh computer.

Internet dan e-mail

Dengan teknologi yang berkembang pesat dewasa ini, pemanfaatan computer dalam proses embelajaran tidak hanya dapat digunakan secara stand alone, tetapi dapat pula dimanfaatkan dalam suatu jaringan. Jaringan computer (computer network) telah memungkinkan proses belajar menjadi lebih luas, lebih interaktif, dan lebih fleksibel.

Peserta didik dapat melakukan proses belajar tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Artinya, jika ada faslitas jaringan, peserta didik dapat melakukan proses belajar dimana saja dan kapan saja.

Kelebihan dari jaringan computer sebagai media pendidikan adalah adanya kemungkinan bagi peserta didik untuk melakukan interaksi dengan sesamapeserta didik, dengan pengajar diluar ruang kelas. Kemampuan interaktif ini mampu membuat proses belajar menjadi lebih yang memberi kemungkinan kedapa pengajar untuk memberikan umpan balik (feedback) terhadap proses dan hasil belajar peserta didik. Jaringan computer yang paling umum digunakan adalah internet. Saat ini teknologi internet telah memungkinkan setiap orang memperoleh akses yang lebih besar terhadap beragam informasi yang tersedia. Teknologi ini telah dimanfaatkan secara luas mulai dari tingkat pendidikan dasar sampai pada jenjang yang lebih tinggi.

Pemanfaatan computer tersebut dapat digunakan secara bervariasi, pengajaran dapat digunakan secara penuh melalui computer, namun dapat pula dikombinasikan dengan tatap muka yang telah menjadi bagian dari proses pembelajaran. Untuk langkah awal, kombinasi antara pemanfaatan computer dengan tatapmuka yang lebih fleksibel. Tugas-tugas dapat diberikan oleh pengajar dan dikerjakan oleh peserta didik melalui computer, hal ini membuka kemungkinan bagi pengajar untuk memberikan penilaian yang terbuka dan juga memberi kesempatan kepada peserta didik lain untuk memberikan masukkan.

6. Multimedia Kit

Multimedia kit dapat diartikan sebagai paket naham ajar yang terdiri dari berbagai jenis media yang digunakan untuk menjelaskan suatu topic/materi tertentu, yang dilengkapi dengan study guide, lembar kerja, dan modul. Multimedia kit biasanya digunakan dalam mata pelajaran fisika, kimia, dan biologi yang siap digunakan oleh pengajar untuk menyajikan pelajarannya. Multimedia kit dapat juga digunakan langsung oleh peserta didik, baik secara kelompok atau individual dalam melakukan eksperimen mengenai prinsip dan mekanisme kerja suatu benda.

Multimedia untuk materi-materi tertentu dapat dibeli sebagai paket lengkap yang siap pakai, tetapi pengajar dapat pula mempersiapkan paket multimediakit yang sesuai dengan dana yang tersedia dan tujuan instruksional yang ingin dicapai.

Penggunaan multimedia kit yang beredar dipasaran maupun yang dirancang sendiri oleh pengajar perlu memperhatikan tujuan utama dari penggunaannya, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar secara langsung, mengamati, untuk melakukan eksperimen, meningkatkan rasa ngin tahu, dan memberikan suatu keputusan terhadap apa yang telah diujicobakan.

BAB III

PENUTUP

3.1 Tanggapan

Media pembelajaran di era teknologi komunikasi dan informasi sangat beragam, maka di wajibkan seorang guru harus mampu menggunakn media-media yang ada dengan maksimal, agar tujuan pembelajaran dapat tercapi.

Peran guru dalam mengembangkan media itu sangat perlu dalam mempengaruhi proses belajar. Karena pada dasarnya kepribadian guru memiliki hubungan dengan murid. Seorang guru yang kurang mampu menjelaskan dengan baik dan kurang menguasai bahan yang diajarkan dapat menimbulkan kurangnya dorongan untuk menguasai materi. Maka dari itu peran media sangat diperlukan dalam membantu guru untuk menyelesaikan penyelesaian dalam proses pembelajaran.

Jadi hal ini guru sangat berperan penting dalam mengembangkan media pembelajaran, mengingat guru merupaakan seorang pendidik dan sebagai fasilitator bagi para siswanya. Peranan guru dalam mengembangkan media sangat beragam sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya, serta dapat berimprovisasi dengan media yang tersedia.

3.2 Keimpulan

Berdasarkan pembahasan pada makalah ini, maka dapat disimpulkan bahwa guru sangat berperan penting dalam mengembangkan media pembelajaran. Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan. Media terbagi menjadi beberapa macam seperti Media yang tidak diproyeksikan (non projected media) :Realita, Model, Bahan Grafis (graphical material), Display. Media yang diproyeksikan (projected media): OHT, Slide, Opaque. Media Audio (Audio): Kaset, Vission, Active Audio Vission. Media Video (Video): Video. Media berbasis computer (computer based media): Computer Assisted Instruction (CIA) Computer Managed Instruction (CMI). Multimedia Kit: Perangkat Praktikum.

Media juga memiliki peran sebagai berikut; penyajian materi ajar menjadi standar, kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik, kegiatan belajar dapat menjadi lebih interaktif, waktu yang dibutuhkan untuk pembelajaran dapat dikurangi, kualitas belajar dapat ditingkatkan, pembelajaran dapat disajikan dimana dan kapan saja sesuai dengan yang diinginkan, meningkatkan sifat positif peserta didik dalam proses menjadi lebih kuat/baik, dan memberikan nilai positif bagi pengajar.

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 2010. Media Pembelajaran Proyeksi Diam. online. Http://www.canboyz.co.cc/2010/05/media-pembelajaran-proyeksi-diam.html, akses hari selasa 16 Maret 2011.

Fitrianur. 2010. Peran Guru dalam Pengembangan Media Pembelajaran. Online.Http://www.myjazz.co.cc/2010/02/peran-guru-dalam-pengembangan-media.html, akses hari sabtu 12 Maret 2011.

Karwono dan Heni Mularsih. 2010. Belajar dan Pembelajaran serta Pemanfaatan Sumber Belajar. Ciputat: Cerdas Jaya.

Mu’in, Juhri Abdul. 2009. Landasan dan Wawasan Pendidikan. Metro: Lemlit UM Metro Press.

Sanjaya, wina. 2008. Perencanaan dan Desain System Pembelajaran. Jakarta: Kencana.

Uno, Hamzah B. 2009. Profesi Kependidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Scientists Only »
PENTING!!! Terima kasih atas kunjungannya, saya mengharapkan kritik dan sarannya melalui kotak komentar apabila game, program, dan segala software yang lain dan telah di upload di blog ini mengalami kerusakan atau file corupt, serta kekurangannya. jika ada yang akan direquest untuk info update harap berkomentar!!
http://einsteinfisika.blogspot.com/

Hehehehehehe . . . . .